Mengawal tumbuh kembang anak di era digital

Mengawal tumbuh kembang anak saat ini tidaklah mudah. Terlebih ketika mereka sudah mengenal perangkat elektronik seperti ponsel pintar dan tablet. Hal itu dirasakan oleh teman saya, Uun Iwan Bintoro. Warga Surakarta, Jawa Tengah itu harus memberikan perhatian lebih kepada anaknya agar terhindar dari dampak negatif penggunaan gawai.
#sahabatkeluarga ilustrasi bahaya digital
Ilustrasi "Anak dan ancaman arus digital" karya Abdul Arif. 
Uun saat ini memiliki putri berusia 15 tahun yang duduk di kelas X SMA. Sejak masuk bangku SMP, anaknya itu sudah merengek minta dibelikan ponsel pintar.  Permintaan itu lantaran pengaruh teman-temannya yang sudah memiliki ponsel pintar lebih dulu. Karena dirasa cukup umur, Uun pun mengizinkan putrinya memiliki ponsel pintar. Di sisi lain, keberadaan ponsel pintar mempermudah komunikasi keluarga, terutama untuk kebutuhan antar jemput saat pulang sekolah.

Belakangan, Uun menyadari urusan ponsel pintar bagi anak tak sesederhana itu. Ia merasa takut anaknya sekarang justru kecanduan. “Kalau sekarang sudah jadi generasi merunduk,” katanya dalam obrolan santai dengan saya, Senin 6 Agustus 2018 lalu.

Untuk memastikan penggunaan ponsel pintar yang benar, Uun harus rajin mengecek aktivitas anaknya di dunia digital. Terutama memantau status-status di jejaring sosial. Ia juga aktif mengecek isi ponsel pintar. Namun, belakangan android milik anaknya itu diberi password. Uun pun tidak bisa mengecek android itu secara langsung. Namun dari pengamatannya selama ini, konten-konten yang sering diakses anaknya adalah lagu-lagu dan film Korea. Ia merasa sedikit lega karena tidak ada indikasi penyimpangan.

Uun mengakui, anaknya itu cenderung pendiam. Anaknya tidak pernah berkonsultasi tentang informasi yang diakses melalui ponsel pintar. Untuk itu ia harus lebih aktif berkomunikasi dengan anaknya.

Teman saya yang lain, Eka Handriana lebih ketat dalam memberikan kepercayaan kepada anak untuk memiliki gawai. Putrinya yang saat ini berumur 12 tahun harus bersusah payah menabung untuk bisa memiliki ponsel pintar. Cara itu menurut Eka bisa menunda anak untuk bermain ponsel pintar. Meski demikian, ia sesekali meminjamkan gawai miliknya dengan syarat untuk kegiatan produktif.

“Mulai pegang smartphone kelas 4 SD. Pinjam milik saya untuk menggambar,” katanya.

Si anak pun mengikuti anjuran Sang Ibu untuk menabung. Akhirnya bisa membeli ponsel pintar sendiri ketika memasuki bangku SMP. Menurut hemat Eka, keputusan tersebut sebenarnya menunjukkan sikapnya bahwa anak-anak tidak boleh menggunakan gawai. Sebab, setahu dia media sosial secara umum mensyaratkan penggunanya berusia 13 tahun. “Saya jadi punya alasan untuk dia menabung dulu,” katanya.

Eka selalu memantau isi chat di dalam ponsel pintar milik anaknya. Anaknya juga mau memenuhi kesepakatan: ayah dan ibu harus tahu password yang digunakan. Karena tidak terbiasa menggunakan gawai sejak kecil, putrinya tidak terlalu aktif di grup-grup chat. Itu membuatnya sedikit lega. Si anak, lanjut Eka, lebih banyak menggunakan ponsel pintar itu untuk menggambar dan jualan.

Meski demikian, Eka khawatir jika si anak mengakses konten yang tidak pantas. Ia pernah memergoki ponsel pintar miliknya tertinggal di rumah. Ponsel pintar itu dipakai anaknya untuk chatting. Ada kiriman link dari seorang teman anak. Link itu ternyata berisi konten tidak pantas. Ia pun kaget.

Sejak itu Eka memberi perhatian lebih. Menurutnya anak harus diberi pengertian tentang pendidikan seksual. Ia pun meminjam buku-buku biologi dari temannya untuk menjelaskan kepada anaknya. “Padahal saat itu kelas 5. Kalau diberi pengertian lebih awal, dia lebih tahu. Dia lumayan terbuka. Kita sering adu argumen,” katanya.

Selain itu, putrinya juga aktif bertanya jika ada informasi yang tidak jelas menyebar di media sosial. Eka memanfaatkan kesempatan itu untuk memberikan arahan kepada anaknya. Si anak juga sudah mendapatkan bekal dari sekolah tentang bijak dalam menggunakan media sosial saat hari pertama masuk kelas.

Teman saya Uun dan Eka hanyalah dua di antara orang tua yang memiliki anak yang dekat dengan dunia digital. Keputusan mereka untuk mengizinkan anaknya memiliki ponsel pintar dengan pertimbangan kebutuhan untuk berkomunikasi dan belajar. Meski demikian, Andri Piyatna dalam buku "Parenting di Dunia Digital" mengingatkan orang tua bahwa keputusan untuk memberi anak ponsel pribadi harus berdasar tidak hanya pada kebutuhan, tetapi juga pada apakah anak bisa bertanggungjawab mengurus benda itu atau tidak.

Selain mereka, tentu masih banyak lagi orang tua yang memiliki nasib yang sama. Saya pernah membaca laporan The Asian Parent Insights yang melakukan survei terhadap orang tua di Asia Tenggara pada November 2014.  Responden yang disurvei adalah orang tua yang memiliki anak usia 3-8 tahun. Ada sebanyak 2.714 responden dari Singapura, Malaysia, Thailand, Indonesia, dan Filipina. Penelitian itu menunjukkan 98 persen orang tua mengizinkan anaknya untuk mengakses teknologi berupa komputer, ponsel pintar, atau tablet.

Penelitian itu juga mengungkap alasan orang tua mengizinkan anaknya untuk bermain gawai. Kebanyakan mengatakan untuk tujuan pendidikan. Tetapi fakta yang ditemukan justru bertolak belakang. Sebagian besar putra-putri mereka justru memanfaatkan gawai untuk tujuan hiburan atau permainan.

Di Indonesia, temuan itu diamini oleh data Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia (APJII).  Pengguna internet di Indonesia pada 2017 mencapai 143,26 juta. Menurut APJII, penggunaan internet di Indonesia lebih banyak untuk keperluan chatting (89,35 persen), mengakses media sosial (87,13 persen), mesin pencarian (74,84 persen), melihat gambar/ foto (72,79 persen), lihat video (69,64 persen) dan mengunduh video (70,23 persen).

Internet digunakan hampir tiap hari di Indonesia dengan durasi lebih dari 7 jam. Fakta menarik dari data APJII lainnya adalah pengguna internet ternyata didominasi oleh anak-anak remaja, yaitu usia 13-18 tahun.
Penetrasi penggunaan internet anak-anak muda cukup tinggi, yaitu mencapai 75,50 persen. Jumlah pengguna internet usia muda mencapai 16,68 persen atau sekitar 43,7 juta orang.
Fenomena kedekatan anak-anak zaman sekarang dengan gawai adalah dampak perubahan yang tak bisa dielakkan. Peran teknologi kian penting dan makin mendapatkan ruang di kehidupan manusia. Termasuk mengobrak-abrik tatanan media dalam memenuhi kebutuhan informasi.

Praktisi Pendidikan Keluarga, Najeela Shihab menyarankan orang tua tidak perlu melarang anak untuk dekat dengan teknologi. Ia justru mendorong agar orang tua membimbing anak belajar literasi media agar anak cerdas digital. Dengan bekal itu, Najeela yakin anak bisa belajar menggunakan media dan teknologi dengan aman.

Menurutnya, ada banyak manfaat yang bisa diambil dari kemajuan teknologi informasi. Misalnya, anak bisa belajar dari beragam informasi yang tidak mungkin datang ke kelas atau rumah sendiri. Lebih dari itu, cerdas bermedia juga mendorong anak berpikir kritis. Meski demikian, menurutnya itu semua tergantung dukungan orang tua.



Isnanita Noviya Andriyani (2018) dalam artikelnya yang berjudul “Pendidikan Anak dalam Keluarga di Era Digital” yang dimuat di Jurnal Fikrotuna memberikan tip mendidik anak di era digital agar hubungan orang tua dan anak tetap terjaga.
  • Orang tua harus bertanggungjawab penuh atas jiwa, tubuh, pikiran, keimanan, dan kesejahteraan anak secara utuh.
  • Orang tua harus memiliki kedekatan dengan anak. Kedekatan tersebut tak hanya secara fisik, tetapi juga kedekatan secara emosional.
  • Orang tua harus merumuskan tujuan pendidikan yang jelas bagi anak. Perlu membuat kesepakatan bersama untuk menentukan prioritas apa yang perlu diberikan kepada anak. 
  • Dalam berkomunikasi, orang tua harus berbicara baik-baik dengan anak. Juga mau mendengarkan perasaan anak. 
  • Mengajarkan agama kepada anak adalah kewajiban orang tua. Pendidikan agama sangat penting untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan. 
  • Orang tua perlu menyiapkan anak untuk memasuki masa pubertas. Orang tua tidak perlu malu membicarakan masalah seks dengan anak. Pembelajaran tentang seks sejak dini dengan bahasa yang sesuai akan membuat anak lebih berhati-hati menjaga apa yang dimilikinya. 
  • Yang terpenting lagi adalah menyiapkan anak memasuki era digital. Orang tua perlu memberikan arahan bahwa penggunaan gawai tidak boleh berlebihan. Akses internet harus dibatasi untuk mencegah anak mengakses situs yang tidak diinginkan. Orang tua juga harus rela menjadi partner belajar yang baik agar anak tidak tergantung pada gawai. 
Tak hanya itu, orang tua juga perlu membekali anak bagaimana membedakan informasi yang benar dan tidak. Ini penting untuk membekali anak agar tidak terprovokasi oleh berita hoaks. Belakangan hoaks marak beredar di media sosial dalam bentuk gambar, meme dan bahkan dalam bentuk berita. Ini sangat mengkhawatirkan bagi anak-anak.

Sahal Mahfudh dalam artikel berjudul "Mempersiapkan Generasi yang Cerdas Digital" mengatakan, berita hoaks memiliki dampak yang cukup tinggi yang bersifat merusak. Dia menyebut, hoaks dalam bidang politik bisa memicu pertikaian dan menyulut kebencian. Hoaks dalam ilmu pengetahuan bisa merusak objektivitas ilmu dan masih banyak kerusakan lainnya akibat berita hoaks.

Verifikasi informasi

Berita hoaks yang beredar di jagat maya ada dua macam, yaitu misinformasi dan disinformasi. Dua istilah itu saya kenal ketika mengikuti pelatihan bersama Google News Lab dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia. Misinformasi adalah informasi yang salah namun orang yang membagikannya tidak tahu jika informasi itu salah. Sedangkan disinformasi adalah informasi yang salah dan orang yang membagikannya tahu jika informasi yang dibagikan itu salah.

Sebagai orang tua yang bijak, hendaknya membekali anak-anaknya bagaimana cara membedakan informasi yang benar dan salah. Dari pelatihan yang saya ikuti itu, ada tujuh macam misinformasi dan disinformasi.
#sahabatkeluarga Infografis macam-macam misinformasi dan disinformasi. (Abdul Arif/ direktorijateng.com)
Infografis macam-macam misinformasi dan disinformasi. (Abdul Arif/ direktorijateng.com)
Ada beragam motif yang melatarbelakangi penyebaran disinformasi. Di antaranya jurnalisme yang lemah, untuk lucu-lucuan, sengaja membuat provokasi, agenda politik, mengeruk keuntungan, dan sebagai alat propaganda. Lalu bagaimana cara mengidentifikasi situs maupun akun media sosial yang menyebarkan berita palsu?

Untuk mengetahuinya, ada sejumlah hal yang harus dicek dari sebuah situs maupun akun media sosial. Mencari tahu detail informasi pemilik situs bisa menggunakan laman who.is. Caranya cukup mudah, yaitu dengan menyalin alamat url situs di laman who.is. Cara lainnya dengan mengecek siapa saja pengiklan di situs itu. Pengiklan biasanya memiliki visi misi yang sama dengan media yang memuatnya. Pastikan juga profil situs tersebut melalui menu about us. Situs yang kredibel akan menampilkan profil, alamat dan nama penanggungjawab yang jelas.

Selain itu, konten yang dipublikasikan dalam situs tersebut juga perlu diverifikasi. Cara yang paling mudah sebenarnya dengan mengecek informasi itu di media mainstream yang sudah terpercaya. Bisa juga mengecek gambar yang dimuat dengan menggunakan Google reverse image. Melalui aplikasi ini akan mudah diketahui siapa penggungah foto yang lebih awal. Dengan demikian akan diketahui apakah foto yang dimuat sebuah situs itu benar atau tidak.

Adapun untuk memverifikasi konten dan akun media sosial bisa dengan mengecek asal-usul, sumber, lokasi, dan tanggal. Ciri-ciri jika situs atau akun media sosial abal-abal biasanya menyampaikan informasi secara berlebihan. Pembaca juga biasanya diminta untuk berlangganan.

Ada banyak sumber yang bisa dijadikan acuan orang tua untuk memverifikasi kebenaran informasi. Satu di antaranya adalah situs First Draft News. Situs ini menyediakan panduan bagi siapapun yang ingin mengecek kebenaran informasi. Ini penting bagi orang tua untuk mengawal tumbuh kembang anak agar cerdas di era digital.

#sahabatkeluarga

Abdul Arif
Blogger dan kartunis lepas. Sedang menempuh pendidikan magister Prodi Kurikulum dan Teknologi Pembelajaran Pascasarjana Unnes

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel