Berburu batu akik klawing di Purbalingga

Batu akik klawing Purbalingga
DIREKTORIJATENG.COM, PURBALINGGA- Langit di Purbalingga terasa teduh. Matahari mulai mendekati ufuk barat. Beberapa warga di Desa Bancar Purbalingga mulai merapat ke Sungai Klawing, Senin (8/6/2014). Mereka membawa sebatang pipa berdimensi sekitar 10 cm. Panjangnya 1 meteran.

Arus sungai tak begitu deras. Sesampainya di tepian sungai, mereka lantas menceburkan diri ke dalam air. Pelan-pelan mereka mengamati bebatuan di dasar sungai. Pipa yang mereka bawa itu untuk membantu mencari batu-batu akik yang menyelip di antara bebatuan Sungai Klawing.

Pada bagian ujung pipa, ada mika yang menutupi lobang. Dengan begitu, mereka yang acap kali disapa para petani batu akik itu bisa meneropong bebatuan di dasar sungai. Begitu ada batu yang terlihat menarik, langsung dipungutnya dan dimasukkan ke dalam tas.

Sungai Klawing yang berada di wilayah Purbalingga merupakan surga bagi kerajinan batu akik di Purbalingga. Sungai yang melintasi wilayah utara Purbalingga hingga selatan dan bermuara di Sungai Serayu tersebut menghasilkan Batu Klawing sebagai bahan dasar kerajinan batu akik. Di sepanjang sungai, berbagai macam batuan semi mulia dengan motif dan warna yang unik bisa ditemukan.

Ipong (40) satu di antara petani itu menjelaskan, batu Klawing yang dipungutnya dari Sungai Klawing adalah yang memiliki ciri khusus. Dia memaparkan, biasanya yang berwarna hijau dan bercampur warna merah. Dia menyebut batu tersebut dengan istilah Nagasui.

"Nagasui adalah batu Klawing andalan di Purbalingga, " ujar warga Bancar RT 2/6 Kecamatan Purbalingga.

Selain batu Nagasui, lanjut dia, ada juga beberapa batu Klawing lainnya, seperti panca warna, badar lumut dan motif telor kodok.

Para petani biasanya menambang Batu Klawing tersebut saat cuaca tidak sedang memanas. Mereka memilih pagi atau sore hari untuk menceburkan diri menambang Batu Akik.

Batu-batu Klawing yang dikumpulkan para petani selanjutnya dijual kepada para pengrajin batu akik. Ipong mengatakan, di Purbalingga tidak susah menemukan pembeli batunya untuk bahan kerajinan batu akik. "Di sini banyak yang mau. Yang beli pengrajinnya langsung," katanya.

Batu Klawing temuan Ipong biasa dibanderol Rp 50 ribu. Pernah juga dia menjual seharga Rp 350 ribu untuk batu nagasui panca warna. Menurut dia, tal bisa dipastikan berapa pendapatannya dalam menambang Batu Klawing. Yang jelas, pekerjaan itu dilakukannya di sela-sela kesibukannya sebagai seorang tukang becak.

Tomari (35) yang juga petani Batu Klawing menambahkan, untuk memeroleh batu panca warna dan nagasui di Sungai Klawing menurutnya cukup susah. Sehingga harganya cukup mahal. Untuk batu berukuran kepalan tangan bisa dia jual mulai Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu.

Pembuatan Batu Akik

Seorang petani sedang mencari batu di Sungai Klawing Purbalingga
Suara mesin pisau pemotong batu bergemuruh di belakang sebuah kios batu akik bernama Raja Klawing di Kecamatan Bukateja, Purbalingga, Senin (8/6). Beberapa pengrajin terlihat memotong batu menjadi bagian-bagian kecil. Batu tersebut dipotong menjadi lempengan dengan ketebalan sekitar 1 cm.

Setelah dipotong sama tebal, Batu Klawing hasil penambangan oleh para petani di sungai Klawing itu lalu dimasukkan ke dalam ember berisi air. "Warna dan motifnya akan kelihatan jelas," ujar Roni (25), seorang pengrajin batu akik.

Lempengan batu itupun siap dibentuk menjadi batu akik maupun liontin. Roni memeragakan, lempengan batu Klawing dipotong menggunakan pisau mesin. Sebelumnya, untuk menentukan ukuran dia harus menggunakan penggaris berpola.

Ada 10 macam ukuran pola. Mulai dari yang terkecil untuk akik hingga ukuran yang terbesar yang biasanya untuk pembuatan liontin. Pola tersebut berbentuk oval.

Pemilik kios Raja Klawing Bukateja sekaligus ketua Kelompok Usaha Bersama (Kube) Batu Klawing Bukateja, Bayu mengatakan setelah dipotong menjadi bentuk oval, batu dikupas menggunakan pisau gerinda. Pengupasan terus dilakukan hingga membentuk akik dan kelihatan detil warna dan motifnya. Setelah itu, baru dilakukan pengamplasan.

Pengamplasan dilakukan secara bertahap menggunakan berbagai jenis amplas. Yaitu amplas ukuran 100, 320, 800, hingga 1.500. Setelah sempurna halus, batu siap diikat dengan cincin pengikat akik maupun pengikat liontin. Batu akik maupun  liontin pun siap dipasarkan.

Desa Kembangan Kecamatan Bukateja hanyalah satu di antara sentra kerajinan batu akik Klawing. Aktivitas serupa juga terlihat di Kecamatan Bobotsari dan Desa Bancar Kecamatan Purbalingga.

Menurut lelaki yang biasa disapa Si Rambut Geni itu, di Bukateja ada sekitar 12 pengrajin batu akik yang tergabung dalam Kube yang dikelolanya. Ada pula pengrajin lainnya yang mendirikan usaha kecil-kecilan di rumah. Kube yang dikelolanya termasuk yang terbesar di Kecamatan Bukateja, terdiri dari dua kios dan tempat pembuatan akik.

Di Kecamatan Bobotsari, jumlah pengrajin batu akik lebih banyak lagi. Setidaknya ada sekitar 40 pengrajin batu akik. Hal itu disampaikan oleh penasehat paguyuban pengrajin batu akik di Bobotsari, Wahadi (56).

Pembuatan batu akik lebih banyak dilakukan di rumah-rumah dalam skala kecil. Menurut Wahadi, paguyuban menaungi pengrajin di empat kecamatan,  yaitu Mrebet, Bobotsari, Karangreja dan  Karangjambu. Dari empat kecamatan itu, Bobotsari merupakan yang terbanyak pengrajinnya yang mencapai 30 an orang. Lainnya hanya dua hingga tiga pengrajin.

Sementara itu, pengrajin batu akik di Desa Bancar Kecamatan Purbalingga juga tak sedikit. Dari pantauan, setidaknya ada puluhan kios dan tempat usaha pembuatan batu akik di kompleks Bancar Badhok Center (BBC) Purbalingga. Terlebih, Bancar berada dekat dengan sungai Klawing.(AS)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel